Gemerlap Emas di Ruang Bencana: Anatomi Godaan pada Institusi Kemanusiaan
By Admin

Ilustrasi
nusakini.com, Di dalam gedung yang saban hari sibuk memetakan duka dan reruntuhan bencana, sebuah ironi diam-diam mengambil tempat belakangan ini. Alih-alih merumuskan logistik pengungsian, belasan orang yang terdiri dari petinggi lembaga dan rekanan swasta justru harus berhadapan dengan penyidik antirasuah atas dugaan manipulasi proyek pengadaan.
Sulit membayangkan bagaimana kepingan logam mulia dan tumpukan uang tunai bisa bersembunyi dengan apik di balik rencana anggaran yang berbalut status darurat. Tragedi sesungguhnya barangkali bersumber dari rapuhnya benteng integritas, terutama ketika oknum sekretaris utama dan pejabat pembuat komitmen diduga mulai memperdagangkan kewenangannya.
Pemandangan miliaran rupiah yang terhampar di meja penyidik seakan menyiratkan keserakahan manusia yang sering kali tidak lagi mengenali batas empati. "Selain mengamankan sejumlah pihak, tim juga mengamankan barang bukti dalam bentuk uang tunai dan juga logam mulia emas," tutur Juru Bicara KPK Budi Prasetyo memecah keheningan publik.
Hitungan awal otoritas penegak hukum pada pekan ini menunjukkan angka fantastis sebesar 1,4 miliar rupiah yang ditarik dari kelamnya ruang operasi senyap tersebut. Nominal yang semestinya mampu menyelamatkan banyak nyawa itu kini seolah mengolok-olok penderitaan para korban musibah yang masih setia menanti uluran tangan negara.
Operasi penindakan ke-21 sepanjang tahun ini pada akhirnya menolak sekadar menjadi catatan statistik bisu bagi kiprah komisi pemberantasan korupsi. Empat belas manusia yang kini tertunduk di ruang pemeriksaan itu menjadi potret buram tentang bagaimana sisi tergelap kekuasaan amat mudah bersembunyi di balik jubah kemanusiaan. (*)